Becak Dayung


Betor atau Becak Motor merupakan kendaraan yang banyak dipilih masyarakat kota Medan dibandingkan dengan jenis kendaraan lain. Bahkan selama saya berada di kota ini, saya belum pernah melihat ada ojek, yang ada hanya Betor. Keunggulan betor ini salah satunya bisa mengangkut 2 sampai dengan 3 orang penumpang dengan tujuan kemana saja. Selain itu, betor ini tergolong cepat karena bisa nyelip-nyelip diantara kemacetan dan bisa melalui gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui taxi atau angkot.

Bukan hanya Becak Motor yang bisa Anda jumpai di kota Medan. Ada jenis becak lain yaitu Becak Dayung, becak yang ditarik oleh sepeda dan dikayuh/didayung oleh manusia. Namun desain becak ini juga sama dengan becak motor yang berada di samping becak. Desain ini konon mengambil dari desain motor militer tentara Jerman. Kalau menurut pengalaman saya, menaiki becak dayung lebih menyenangkan karena lebih santai dan tidak berisik.

Advertisements

Alternatif Pengobatan Tulang


Ada yang aneh dengan foto di atas? sekilas nampak biasa saja, namun ada yang menarik keingintahuan saya setelah membaca papan nama “Dukun Patah Pergendangan” apa itu? Setelah saya cari informasinya, ternyata Dukun Patah Pergendangan adalah Dukun Patah Tulang alias pengobatan tradisional untuk terkilir, keseleo, bahkan patah tulang.

Saya menemui lokasi ini di jalan Merak, Medan, Sumatera Utara, sebelum memulai perjalanan ke air terjun Sipiso-piso di Tongging. Teman saya turun dari mobil dan membawa kamera untuk mengambil foto papan nama itu. oalaaahhh…

Samosir dari dekat


Pulau Samosir sarat dengan keindahan alam dan budaya yang unik. Dengan view danau Toba di sekelilingnya, ditambah oleh kesejukan air danau membuat fikiran kembali jernih. Ada beberapa spot tempat wisata yang sempat saya kunjungi yaitu Tomok, Tuktuk, dan Pangururan.

Tomok

Tomok sebagai pelabuhan penyebrangan merupakan daerah yang sangat ramai dikunjungi. Disini terdapat sebuah pasar yang menjual beraneka macam souvenir dan makanan khas Batak. Di atas bukit terdapat makam Raja Sidabutar, yaitu seorang penguasa wilayah Tomok yang merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir. Makam Raja Sidabutar ini terbuat dari batu yang dipahat membentuk peti yang di atasnya dipahatkan juga wajah Sang Raja yang dikawal oleh dua patung gajah. Di komplek makam ini juga terdapat patung Sigale-gale yang mengenakan pakaian tradisional Batak. Sigale-gale adalah boneka kayu yang dapat digerakkan untuk menari. Konon dulunya ada seorang anak bangsawan di Samosir yang wafat dalam usia masih belia. Namun orang tua sang anak tidak rela berpisah dengan anaknya tersebut sehingga dibuatlah patung yang sedemikian rupa mirip dengan anaknya. Patung ini dapat dikendalikan melalui tali-tali oleh seseorang dari belakang sehingga dapat bergerak dan menari untuk menghibur sang bangsawan. Kini, Sigale-gale merupakan salah satu daya tarik wisata Pulau Samosir. Pada pementasannya sekarang, Sigale-gale menari  diiringi oleh musik tradisional Batak dari sebuah pemutar musik modern.

Tuktuk

Tidak jauh dari Tomok, Tuktuk merupakan daerah semenanjung di pulau Samosir. Disini banyak terdapat hotel dan resort serta menyediakan permainan air seperti banana boat, mendayung, dan memancing di danau Toba. Selain terdapat resort dan hotel, disepanjang jalan terdapat kios-kios yang menjual souvenir kerajinan tangan khas Batak. Bahkan Anda bisa memesan kalung, gelang, atau souvenir lain untuk diukirkan nama Anda.

Setelah dari Tomok dan Tuktuk, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Pangururan melalui jalan yang mengitari pinggiran danau Toba. Disepanjang jalan, rumah-rumah penduduk kebanyakan masih rumah tradisional. Ada juga rumah adat Batak yang disebut Rumah Bolon. Selain rumah tradisional dan rumah Bolon, Di beberapa tempat juga banyak terdapat makam tradisional Batak yang menyerupai rumah yang berpintu-pintu. Ada beberapa pintu yang masih terbuka dan ada pintu yang sudah tertutup. Pintu yang tertutup artinya sudah diisi oleh jenazah. Biasanya bangunan makam yang terdapat di halaman rumah atau di tengah ladang ini adalah makam untuk satu keluarga.

Gambar makam orang Batak dan rumah Bolon

Pangururan

Di Pangururan, ada juga tempat wisata alam dan budaya diantaranya :

  • Terusan Tano Ponggol yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Terusan ini memisahkan pulau Samosir yang dulunya menyatu dengan pulau Sumatera sehingga pulau Samosir ini juga dapat dicapai melalui jalan darat melewati Naginjang Tele.
  • Pemandian Air Panas yang berjarak sekitar 3 KM dari kota Pangururan.
  • Persanggrahan, yaitu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang kini dipakai sebagai kantor Bupati kabupaten Toba Samosir.
  • Open Stage, bangunan panggung terbuka yang berfungsi sebagai tempat pentas seni dan budaya.
  • Komunitas Tenun Ulos Batak, merupakan kelompok masyarakat yang sampai kini melestarikan tenun tradisional ulos batak di desa Lumban Suhi-suhi yang berjarak sekitar 4 KM dari Kota Pangururan.

Jalan-jalan ke Pulau Penyengat


Pulau Penyengat berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, terletak sekitar 6 KM di sebelah barat kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Pulau ini merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan kerajaan Riau.

Konon katanya, pulau ini sudah terkenal di kalangan pelaut sejak berabad-abad lalu yang merupakan tempat persinggahan dan tempat untuk mengambil air bersih. Menurut legenda, suatu ketika ada sekelompok pelaut sedang mengambil air bersih kemudian diserang/disengat oleh semacam lebah. Sejak saat itulah pulau ini dinamakan pulau Penyengat.

Untuk berkeliling pulau, Anda bisa menaiki becak motor yang bentuknya agak unik karena sudah dihias dan bercorak warna kuning seperti kebanyakan bangunan di pulau ini. Para sopir becak ini juga bisa menjadi guide para wisatawan. Anda bisa diantar ke makam raja-raja dan pahlawan, Istana kantor, Balai Adat, Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, serta bisa juga mengantarkan ke Bukit Kursi yang di atasnya terdapat benteng pertahanan Bintan. Di atas bukit ini masih tersisa meriam-meriam peninggalan jaman dahulu yang masih kokoh sampai sekarang.

Dari atas bukit, Anda bisa menikmati keindahan alam Pulau Penyengat yang berupa pantai dan perbukitan serta lautan yang membentang.

Kebun Binatang Medan


Kota Medan mempunyai tempat wisata alam yang tak kalah menarik dari kota lainnya di Indonesia. Terletak di kelurahan Simalingkar B, Medan Tuntungan, Kebun Binatang Medan yang berjarak sekitar 10 KM dari pusat kota menyimpan beberapa koleksi hewan dan beberapa wahana outdoor. Kebun Binatang ini diresmikan oleh walikota Medan, Drs. Abdillah, pada 14 April 2005. Sebelumnya Kebun Binatang Medan terletak di Jl. Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun.

Untuk masuk ke lokasi kebun binatang ini, dikenakan karcis sebesar Rp. 5.000,- per orang termasuk asuransi jiwa dan berlaku untuk seharian disana.

Koleksi hewan di Medan Zoo ini diantaranya adalah Gajah, Buaya, Kijang, Kuda, Orang Utan, Harimau, Beruang, Lutung, Kelelawar, Landak, Burung Merak, Burung Bangau, Kura-kura, dan hewan lainnya. Anda akan diajak berkeliling mengitari area kebun binatang yang sedikit berbukit disepanjang jalan paving block. Sebuah arena tunggang gajah terdapat di atas bukit datar di tengah kebun binatang. Tarifnya bersahabat, cukup Rp. 5000,- per orang Anda sudah bisa menikmati rasanya menunggang gajah. Untuk kenang-kenangan, Anda dan keluarga juga bisa berpose di atas gajah. Fotonya langsung dicetak disitu dengan biaya Rp. 15.000,- saja. Selain itu, ada juga arena tunggang kuda untuk anak-anak dengan tarif Rp. 4000,-.

Selain arena tunggang hewan, ada juga arena outdoor yang bisa Anda nikmati diantaranya gokart, flying fox, dan titian tali. Ada juga arena bermain anak seperti perosotan, ayunan, dan jungkit-jungkit di beberapa tempat.

Bingung mau liburan kemana? Kebun Binatang Medan bisa menjadi alternatif liburan bagi keluarga Anda.

Menara Air Tirtanadi Medan


Anda para pendatang di kota Medan “wajib” mengunjungi bangungan yang satu ini karena Menara Air Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara. Sayang sekali jika Anda melewatkan bangunan unik ini. Menara air ini dulunya milik pemerintahan kolonial Belanda yang bernama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berdiri pada tahun 1905. Menara Air ini selesai dibangun pada tahun 1908 dan sekarang sudah menjadi milik PDAM Tirtanadi. Fungsinya untuk mensuplai kebutuhan air bersih para penduduk yang sampai sekarang masih tetap digunakan. Selain itu, Menara Air ini dulunya berfungsi juga sebagai Landmark kota Medan

Menara Air ini tingginya 42 meter dan beratnya 330 ton. Alamatnya di Jln. Sisingamangaraja No. 1 yang terletak di perempatan Jalan Sisingamangaraja-Jalan Pandu-Jalan Cirebon-Jalan Hj. Ani Idrus. Letaknya tidak jauh dari hotel Soechi Novotel. Cukup mudah dijangkau karena terletak di tengah kota medan. Anda bisa naik angkot, bemo, ataupun Becak Motor untuk menuju lokasi ini.

Wisata Bukit Gundaling


Tepat seminggu sebelum peristiwa gunung Sinabung, saya dan keluarga sempat berekreasi ke wilayah Berastagi. Awalnya kami hanya iseng saja karena penat dengan udara kota dan ingin menghirup kesegaran udara pegunungan, maka pergilah kami ke Berastagi tanpa tujuan mau kemana, yang penting ke Berastagi dulu deh.  Sampai di Berastagi, kami melihat-lihat papan penunjuk jalan sambil mencari daerah tujuan wisata.  Akhirnya kami menemukan suatu tempat wisata yang tidak jauh dari kota Berastagi yaitu Bukit Gundaling.

Penasaran bagaimana suasana wisata disana? cekidot deh ….

Bukit Gundaling berjarak kurang-lebih 3 KM dari kota Berastagi yang berada di ketinggian 1.575 M dpl. Untuk menuju ke lokasi wisata, Anda bisa menggunakan Delman atau Sado sambil menikmati pemandangan indah gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Akses jalan menuju Bukit Gundaling ini kalau ditempuh dengan kendaraan roda 4 merupakan jalan searah yang mengitari Bukit itu sendiri.  Sesampainya di Bukit Gundaling, Anda akan melihat relief di tembok sebelah kanan jalan yang berwarna kuning. lalu setelah itu ada lokasi parkir untuk kendaraan sekaligus terdapat Mushola, sewa Andong, dan sewa Kuda. Di Bukit Gundaling ini terdapat jalan memutar untuk menikmati suasana bukit yang segar. Jadi, ada 2 jalan disini. Satu jalan di bawah adalah akses ke bukit, sedangkan satu jalan lagi di atas adalah tempat wisata itu sendiri.

Belum lengkap rasanya kalau ada kuda tunggangan saya tidak naik, oleh karena itu saya mencoba naik kuda mengitari bukit gundaling. Tarif naik kuda pun cukup bersahabat di kocek, Anda cukup membayar Rp. 20.000,- untuk satu keliling naik kuda. Sedangkan jika ingin beramai-ramai, Anda juga bisa naik Andong seharga Rp. 25.000,-. Belum puas dengan hanya satu keliling? Anda pun bisa menyewa kuda selama satu jam dengan tarif Rp. 100.000,- mengelilingi bukit dan turun memetik buah jeruk. Menyenangkan bukan?

Di atas Bukit, terdapat taman dan beberapa situs yang berupa patung dan tugu. Pada puncaknya terdapat area yang cukup datar yang bisa digunakan untuk bermain. Selain itu, ada juga beberapa bangunan diantaranya gereja tua dan beberapa shelter untuk berteduh. Disana juga terdapat beberapa tenda yang bisa disewakan kepada pengunjung yang ingin menikmati keindahan pemandangan alam sambil lesehan ataupun menikmati bekal dari rumah alias botram. Bagi yang tidak membawa bekal, disana juga terdapat rumah makan yang terletak di pinggir bukit dengan hamparan lahan hijau yang menyejukkan mata.

Bagi Anda yang senang berbelanja, tentu saja tak lengkap rasanya jika sepulang dari tempat wisata tidak membawa buah tangan. Di sepanjang jalan di atas bukit ini terdapat banyak kios yang menjual souvenir mulai dari kerajinan tangan khas Batak sampai dengan kaus bertuliskan Berastagi. Anda ingin mendapatkan harga yang miring? bisa, harga barang disini bisa ditawar kok. Tinggal Anda sajalah yang menentukan.

Selamat berwisata!