Sisi Lain Tangerang


Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang kerabat yang tinggal di kampung Jembatan Papan, Pakuhaji, Tangerang. Lokasinya tidak jauh dari bandar udara Soekarno Hatta. Dari bandara, tinggal naik angkutan trans ke arah pintu M1 kemudian naik elf. Untuk menuju kesana, terlebih dahulu saya harus menyebrangi sungai Cisadane dengan mengggunakan perahu dari Eretan ke kampung Gaga. Perahu penyebrangan ini bisa memuat beberapa orang dan sepeda motor. Sebagai penahannya, terdapat kawat cukup besar yang terbentang melintasi sungai.

Setelah menyebrangi sungai, selanjutnya perjalanan ditempuh menggunakan ojek sampai ke lokasi. suasana sepanjang jalan masih hijau, banyak terdapat sawah dan kebun sehingga saya merasa seperti di kampung sendiri. Selain itu, ternak seperti sapi dan kambing dibiarkan liar begitu saja di halaman rumah dan kebun untuk mencari rumput segar sendiri.

Setibanya di lokasi, ternyata rumah kerabat saya ada di tengah sawah dengan dikelilingi hamparan tanah pesawahan yang luas. Ada pemandangan yang menarik saya disana, yaitu sebuah alat mirip pompa terbuat dari bambu yang berada di tengah sawah. Masyarakat sini menyebutnya sengkotan. Setelah saya tanyakan, ternyata sengkotan adalah alat pengairan yang lazim digunakan disini dan berfungsi untuk menimba air dari sumur yang berada tepat di bawahnya. Untuk mempermudah pendistribusian air, digunakanlah tahang, semacam pikulan yang di kedua sisinya terdapat jerigen yang sudah dikasih bambu untuk menuangkan air.

Setelah puas berkeliling, saya pun pamit pulang. Kini, saya tidak melewati Eretan namun melalui Kampung Melayu untuk kemudian menuju ke bandara Soeta.

Advertisements