Wisata Ramadhan di Medan


Akhir pekan kemarin, pada hari keempat puasa Ramadhan saya menyempatkan diri mengunjungi masjid raya Medan. Dari kost-an saya berangkat sekitar jam 5 sambil ngabuburit agar saya memiliki waktu yang cukup untuk menikmati suasana disana karena waktu buka puasa masih sekitar satu-setengah jam lagi. Tidak seperti hari-hari biasanya, masjid yang beralamat di jalan Sisingamangaraja, depan Yuki swalayan ini pada bulan Ramadhan memiliki suasana yang lain karena ada bazaar dan foodcourt musiman. Bazaar dan foodcourt itu menutupi seluruh ruas jalan di sebelah utara masjid, yaitu jalan Masjid Raya, mulai dari jalan Sisingamangaraja sampai tembus ke Jalan Katamso. Disana dijual berbagai macam barang dan makanan mulai dari makanan pembuka puasa, makanan berat, sampai pakaian.

Selain bazaar Ramadhan, disana pun terdapat sebuah panggung untuk acara Ramadhan Fair yang ramadhan ini memasuki tahun ketujuh. Acara Ramadhan Fair ini dibuka langsung oleh gubernur Sumatera Utara, Bapak H. Syamsul Arifin, SE. Pengamanan untuk acara ini pun cukup ketat dengan banyaknya personil dari kepolisian dan instansi keamanan setempat. Dari segi penanggulangan keselamatan, tenaga medis sudah siaga lengkap dengan mobil ambulans. Rencananya, acara ini akan dimeriahkan oleh band Gigi. Namun sayang, saya tidak sempat menonton acara selanjutnya karena keburu pulang.

 

Kalau Anda memesan makanan di tempat bazaar seperti ini, pastikan dulu harganya jangan sampai setelah makan baru bayar. Saya pernah mengalami hal ini waktu memesan sate kambing. Tanpa tanya terlebih dahulu, akhirnya, mau tidak mau saya bayar juga meskipun saya rasa harganya agak kemahalan. Ada lagi yang perlu diperhatikan, kalau mau lebih murah sebaiknya langsung memesan ke kedainya, jangan lewat calo karena akan lebih mahal. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum saya memesan sate kambing ini, saya terlebih dahulu memesan sate padang di tempat lain lewat seorang “calo”, katakanlah begitu. Ternyata dia melakukan “negosiasi”  dulu dengan yang punya kedai sehingga harganya menjadi lebih mahal. Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke tempat lain.

Satu hal yang penting, jika Anda memesan menu tertentu di Medan, maka Anda juga harus memesan nasinya karena kalau tidak, maka Anda akan makan tanpa nasi. Disini, nasi tidak otomatis diberikan kalau tidak dipesan terlebih dahulu. Pernah suatu ketika saat pertama kali ke Medan, saya makan bersama seorang teman. Saya memesan ayam penyet satu porsi. Kemudian pelayannya bertanya lagi, “Pakai nasi Bang?”. Kejadian itu tidak hanya sekali itu saja, namun hampir di setiap warung makan. Mungkin memang begitulah kebiasaan di sini. Sungguh, ini Medan Bung !

Advertisements