Jalan-jalan ke Pulau Penyengat


Pulau Penyengat berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, terletak sekitar 6 KM di sebelah barat kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Pulau ini merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan kerajaan Riau.

Konon katanya, pulau ini sudah terkenal di kalangan pelaut sejak berabad-abad lalu yang merupakan tempat persinggahan dan tempat untuk mengambil air bersih. Menurut legenda, suatu ketika ada sekelompok pelaut sedang mengambil air bersih kemudian diserang/disengat oleh semacam lebah. Sejak saat itulah pulau ini dinamakan pulau Penyengat.

Untuk berkeliling pulau, Anda bisa menaiki becak motor yang bentuknya agak unik karena sudah dihias dan bercorak warna kuning seperti kebanyakan bangunan di pulau ini. Para sopir becak ini juga bisa menjadi guide para wisatawan. Anda bisa diantar ke makam raja-raja dan pahlawan, Istana kantor, Balai Adat, Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, serta bisa juga mengantarkan ke Bukit Kursi yang di atasnya terdapat benteng pertahanan Bintan. Di atas bukit ini masih tersisa meriam-meriam peninggalan jaman dahulu yang masih kokoh sampai sekarang.

Dari atas bukit, Anda bisa menikmati keindahan alam Pulau Penyengat yang berupa pantai dan perbukitan serta lautan yang membentang.

Advertisements

Kebun Binatang Medan


Kota Medan mempunyai tempat wisata alam yang tak kalah menarik dari kota lainnya di Indonesia. Terletak di kelurahan Simalingkar B, Medan Tuntungan, Kebun Binatang Medan yang berjarak sekitar 10 KM dari pusat kota menyimpan beberapa koleksi hewan dan beberapa wahana outdoor. Kebun Binatang ini diresmikan oleh walikota Medan, Drs. Abdillah, pada 14 April 2005. Sebelumnya Kebun Binatang Medan terletak di Jl. Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun.

Untuk masuk ke lokasi kebun binatang ini, dikenakan karcis sebesar Rp. 5.000,- per orang termasuk asuransi jiwa dan berlaku untuk seharian disana.

Koleksi hewan di Medan Zoo ini diantaranya adalah Gajah, Buaya, Kijang, Kuda, Orang Utan, Harimau, Beruang, Lutung, Kelelawar, Landak, Burung Merak, Burung Bangau, Kura-kura, dan hewan lainnya. Anda akan diajak berkeliling mengitari area kebun binatang yang sedikit berbukit disepanjang jalan paving block. Sebuah arena tunggang gajah terdapat di atas bukit datar di tengah kebun binatang. Tarifnya bersahabat, cukup Rp. 5000,- per orang Anda sudah bisa menikmati rasanya menunggang gajah. Untuk kenang-kenangan, Anda dan keluarga juga bisa berpose di atas gajah. Fotonya langsung dicetak disitu dengan biaya Rp. 15.000,- saja. Selain itu, ada juga arena tunggang kuda untuk anak-anak dengan tarif Rp. 4000,-.

Selain arena tunggang hewan, ada juga arena outdoor yang bisa Anda nikmati diantaranya gokart, flying fox, dan titian tali. Ada juga arena bermain anak seperti perosotan, ayunan, dan jungkit-jungkit di beberapa tempat.

Bingung mau liburan kemana? Kebun Binatang Medan bisa menjadi alternatif liburan bagi keluarga Anda.

Wisata Bukit Gundaling


Tepat seminggu sebelum peristiwa gunung Sinabung, saya dan keluarga sempat berekreasi ke wilayah Berastagi. Awalnya kami hanya iseng saja karena penat dengan udara kota dan ingin menghirup kesegaran udara pegunungan, maka pergilah kami ke Berastagi tanpa tujuan mau kemana, yang penting ke Berastagi dulu deh.  Sampai di Berastagi, kami melihat-lihat papan penunjuk jalan sambil mencari daerah tujuan wisata.  Akhirnya kami menemukan suatu tempat wisata yang tidak jauh dari kota Berastagi yaitu Bukit Gundaling.

Penasaran bagaimana suasana wisata disana? cekidot deh ….

Bukit Gundaling berjarak kurang-lebih 3 KM dari kota Berastagi yang berada di ketinggian 1.575 M dpl. Untuk menuju ke lokasi wisata, Anda bisa menggunakan Delman atau Sado sambil menikmati pemandangan indah gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Akses jalan menuju Bukit Gundaling ini kalau ditempuh dengan kendaraan roda 4 merupakan jalan searah yang mengitari Bukit itu sendiri.  Sesampainya di Bukit Gundaling, Anda akan melihat relief di tembok sebelah kanan jalan yang berwarna kuning. lalu setelah itu ada lokasi parkir untuk kendaraan sekaligus terdapat Mushola, sewa Andong, dan sewa Kuda. Di Bukit Gundaling ini terdapat jalan memutar untuk menikmati suasana bukit yang segar. Jadi, ada 2 jalan disini. Satu jalan di bawah adalah akses ke bukit, sedangkan satu jalan lagi di atas adalah tempat wisata itu sendiri.

Belum lengkap rasanya kalau ada kuda tunggangan saya tidak naik, oleh karena itu saya mencoba naik kuda mengitari bukit gundaling. Tarif naik kuda pun cukup bersahabat di kocek, Anda cukup membayar Rp. 20.000,- untuk satu keliling naik kuda. Sedangkan jika ingin beramai-ramai, Anda juga bisa naik Andong seharga Rp. 25.000,-. Belum puas dengan hanya satu keliling? Anda pun bisa menyewa kuda selama satu jam dengan tarif Rp. 100.000,- mengelilingi bukit dan turun memetik buah jeruk. Menyenangkan bukan?

Di atas Bukit, terdapat taman dan beberapa situs yang berupa patung dan tugu. Pada puncaknya terdapat area yang cukup datar yang bisa digunakan untuk bermain. Selain itu, ada juga beberapa bangunan diantaranya gereja tua dan beberapa shelter untuk berteduh. Disana juga terdapat beberapa tenda yang bisa disewakan kepada pengunjung yang ingin menikmati keindahan pemandangan alam sambil lesehan ataupun menikmati bekal dari rumah alias botram. Bagi yang tidak membawa bekal, disana juga terdapat rumah makan yang terletak di pinggir bukit dengan hamparan lahan hijau yang menyejukkan mata.

Bagi Anda yang senang berbelanja, tentu saja tak lengkap rasanya jika sepulang dari tempat wisata tidak membawa buah tangan. Di sepanjang jalan di atas bukit ini terdapat banyak kios yang menjual souvenir mulai dari kerajinan tangan khas Batak sampai dengan kaus bertuliskan Berastagi. Anda ingin mendapatkan harga yang miring? bisa, harga barang disini bisa ditawar kok. Tinggal Anda sajalah yang menentukan.

Selamat berwisata!

Wisata Ramadhan di Medan


Akhir pekan kemarin, pada hari keempat puasa Ramadhan saya menyempatkan diri mengunjungi masjid raya Medan. Dari kost-an saya berangkat sekitar jam 5 sambil ngabuburit agar saya memiliki waktu yang cukup untuk menikmati suasana disana karena waktu buka puasa masih sekitar satu-setengah jam lagi. Tidak seperti hari-hari biasanya, masjid yang beralamat di jalan Sisingamangaraja, depan Yuki swalayan ini pada bulan Ramadhan memiliki suasana yang lain karena ada bazaar dan foodcourt musiman. Bazaar dan foodcourt itu menutupi seluruh ruas jalan di sebelah utara masjid, yaitu jalan Masjid Raya, mulai dari jalan Sisingamangaraja sampai tembus ke Jalan Katamso. Disana dijual berbagai macam barang dan makanan mulai dari makanan pembuka puasa, makanan berat, sampai pakaian.

Selain bazaar Ramadhan, disana pun terdapat sebuah panggung untuk acara Ramadhan Fair yang ramadhan ini memasuki tahun ketujuh. Acara Ramadhan Fair ini dibuka langsung oleh gubernur Sumatera Utara, Bapak H. Syamsul Arifin, SE. Pengamanan untuk acara ini pun cukup ketat dengan banyaknya personil dari kepolisian dan instansi keamanan setempat. Dari segi penanggulangan keselamatan, tenaga medis sudah siaga lengkap dengan mobil ambulans. Rencananya, acara ini akan dimeriahkan oleh band Gigi. Namun sayang, saya tidak sempat menonton acara selanjutnya karena keburu pulang.

 

Kalau Anda memesan makanan di tempat bazaar seperti ini, pastikan dulu harganya jangan sampai setelah makan baru bayar. Saya pernah mengalami hal ini waktu memesan sate kambing. Tanpa tanya terlebih dahulu, akhirnya, mau tidak mau saya bayar juga meskipun saya rasa harganya agak kemahalan. Ada lagi yang perlu diperhatikan, kalau mau lebih murah sebaiknya langsung memesan ke kedainya, jangan lewat calo karena akan lebih mahal. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum saya memesan sate kambing ini, saya terlebih dahulu memesan sate padang di tempat lain lewat seorang “calo”, katakanlah begitu. Ternyata dia melakukan “negosiasi”  dulu dengan yang punya kedai sehingga harganya menjadi lebih mahal. Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke tempat lain.

Satu hal yang penting, jika Anda memesan menu tertentu di Medan, maka Anda juga harus memesan nasinya karena kalau tidak, maka Anda akan makan tanpa nasi. Disini, nasi tidak otomatis diberikan kalau tidak dipesan terlebih dahulu. Pernah suatu ketika saat pertama kali ke Medan, saya makan bersama seorang teman. Saya memesan ayam penyet satu porsi. Kemudian pelayannya bertanya lagi, “Pakai nasi Bang?”. Kejadian itu tidak hanya sekali itu saja, namun hampir di setiap warung makan. Mungkin memang begitulah kebiasaan di sini. Sungguh, ini Medan Bung !